
Selalu Ingin Menyenangkan Pasangan?
“Saya tidak apa-apa kok.”
Kalimat sederhana ini bisa terdengar biasa.
Tetapi bagaimana jika sebenarnya Anda tidak baik-baik saja?
Anda hanya mengatakan demikian karena tidak ingin pasangan kecewa, marah, atau merasa bersalah.
Dalam hubungan, keinginan untuk membuat pasangan bahagia tentu merupakan hal yang baik. Namun, ketika Anda terus mengorbankan kebutuhan sendiri agar pasangan selalu senang, pola tersebut bisa menjadi tidak sehat.
Salah satunya dikenal sebagai people pleasing.
Apa Itu People Pleasing?
People pleasing dalam hubungan adalah kecenderungan untuk terlalu berusaha mendapatkan penerimaan orang lain dengan mengutamakan kebutuhan mereka, bahkan ketika hal tersebut membuat diri sendiri tidak nyaman.
Dalam hubungan, bentuknya bisa terlihat seperti:
- Selalu mengatakan iya.
- Sulit menolak permintaan pasangan.
- Takut pasangan kecewa.
- Meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan.
- Menyembunyikan pendapat sendiri.
- Mengikuti keputusan pasangan hampir dalam semua hal.
Masalahnya bukan pada keinginan untuk menyenangkan pasangan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika Anda merasa tidak boleh mengecewakan pasangan sama sekali.
Mengapa People Pleasing Bisa Terjadi?
Setiap orang memiliki alasan yang berbeda.
Ada yang terbiasa menjaga perasaan orang lain sejak kecil. Ada pula yang pernah mengalami hubungan yang membuatnya belajar bahwa konflik harus dihindari.
Akhirnya, berkata “tidak” terasa jauh lebih menakutkan daripada menahan ketidaknyamanan sendiri.
Dampaknya terhadap Hubungan
Ironisnya, terlalu sering menyenangkan pasangan justru bisa membuat hubungan semakin tidak sehat.
Karena pasangan mungkin tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang Anda rasakan.
Anda mengatakan setuju, tetapi sebenarnya kecewa.
Anda mengatakan tidak masalah, tetapi menyimpan rasa kesal.
Lama-kelamaan, emosi yang dipendam dapat menumpuk.
Bagaimana Menguranginya?
Cobalah mulai dari hal sederhana.
Tidak perlu langsung mengubah semua pola.
Misalnya, ketika pasangan meminta sesuatu, Anda tidak harus langsung menjawab.
Anda bisa mengatakan:
“Aku pikir-pikir dulu ya.”
Memberikan waktu untuk berpikir membantu Anda membedakan antara benar-benar ingin membantu dan sekadar takut mengecewakan.
Belajar Menerima Bahwa Pasangan Bisa Kecewa
Ini mungkin bagian tersulit.
Pasangan boleh kecewa.
Anda juga boleh memiliki keinginan yang berbeda.
Hubungan yang sehat tidak berarti kedua orang selalu setuju.
Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan.
Menyayangi pasangan tidak berarti harus selalu mengatakan iya.
Anda tetap boleh memiliki kebutuhan, pendapat, dan batas sendiri.
Jika Anda merasa sulit membedakan antara kompromi dan mengorbankan diri, konseling dapat membantu memahami pola tersebut tanpa menghakimi.
Apakah people pleasing berarti terlalu baik?
Tidak selalu. People pleasing lebih berkaitan dengan kesulitan memprioritaskan kebutuhan diri karena takut mendapatkan penolakan atau mengecewakan orang lain.
Apakah people pleasing bisa merusak hubungan?
Jika berlangsung terus-menerus, emosi yang dipendam dapat menimbulkan kelelahan, frustrasi, dan ketidakjujuran dalam hubungan.
