
Gaslighting merupakan salah satu bentuk kejahatan emosional yang membahayakan karena sifatnya yang tidak mudah terlihat dan manipulatif. Hal ini sering membuat korbannya mempertanyakan persepsi, ingatan, atau kewarasan mereka sendiri. Dalam sebuah hubungan, pelaku gaslighting sering menggunakan kebohongan, penyangkalan, dan kontradiksi untuk membuat korbannya jadi bingung.
Pelaku memiliki tujuan untuk mendapatkan kendali penuh atas relasi yang terjalin. Gaslighting dilakukan dengan cara menghilangkan kepercayaan diri korban secara perlahan. Hal ini erat kaitannya dengan ketimpangan kekuasaan dalam hubungan. Pelaku biasanya akan memutarbalikkan fakta sampai korban merasa bahwa mereka merupakan pihak yang salah.
Tak hanya pada pasangan mudah, relasi rumah tangga yang sudah berjalan bertahun-tahun juga bisa mengalami. Hasil survei National Domestic Violence Hotline menunjukkan bahwa 74% korban KDRT pernah mengalami gaslighting dari pasangannya (Los Alamos, 2025). Ini mungkin pertanda untuk segera konsultasi dengan ahli melalui konseling pernikahan semarang guna memetakan kembali dinamika komunikasi yang sehat.
Dampak Jangka Panjang Gaslighting
Orang yang terkena gaslight secara jangka panjang bisa jadi mengalami Cognitive Dissonance atau disonansi kognitif, dimana korban akan memegang dua keyakinan yang bertentangan secara bersamaan yaitu mencintai dan merasa terancam oleh pelakunya di saat yang bersamaan. Korban gaslight berisiko tinggi menderita depresi dan gangguan kecemasan berlebih (anxiety).
Di tengah situasi yang membingungkan ini sangat dibutuhkan objektivitas dari pihak ketiga. Mengikuti sesi konseling pernikahan semarang bisa membantu pasangan untuk mengidentifikasi apakah pola interaksi mereka sudah masuk ke ranah yang toxic. Pasangan juga akan dilatih untuk membangun batasan (boundaries) yang sehat demi kesehatan mental bersama.
Mengenali Tanda-tanda Utama Gaslighting
Ada beberapa tanda red flag yang harus kita waspadai dalam relasi. Pertama, penyangkalan yang terang-terangan atas fakta yang terjadi. Kedua, pelaku sering memakai hal yang kamu suka, misalnya hobi atau anak untuk dijadikan sebagai senjata menyerang karakter kita. Ketiga, kita sering menemukan diri kita minta maaf terus-terusan tanpa tahu apa kesalahan yang kita lakukan.
Pelaku juga bisa menggunakan taktik “pengalihan”, ketika kita coba menyampaikan keresahan terkait perilaku yang dia lakukan akan memutarbalikkan situasi. Naluri kita akan memilih untuk membela diri tapi hasilnya tetap saja kita sendiri yang merasa bersalah. Komunikasi yang penuh manipulasi ini harus segera diputus rantainya, memang dibutuhkan keberanian untuk mencari perspektif luar yang profesional. Melalui konseling pernikahan semarang, kita akan belajar teknik komunikasi asertif yang berbasis pada kejujuran dan empati, bukan intimidasi psikologis yang merusak jiwa.
Langkah Memulihkan Diri
Kita bisa mulai mencatat kejadian-kejadian penting dalam jurnal sebagai bukti fisik untuk diri sendiri agar ingatan kita tidak terus digoyahkan. Selanjutnya, kita membangun kembali koneksi dengan orang-orang terpercaya yang dapat memberikan validasi atas realitas yang kita alami. Pemulihan hubungan ini memang menantang, tapi bukan tidak mungkin ketika kedua belah pihak bersedia berkomitmen untuk berubah.
Proses ini perlu didampingi oleh profesional kesehatan mental melalui konseling pernikahan semarang dengan metode ilmiah untuk membantu pasangan mengenali pemicu perilaku manipulatif tersebut. Edukasi yang tepat dan pendampingan yang intensif, relasi yang dulunya penuh dengan kecurigaan bisa berubah menjadi ruang yang aman untuk bertumbuh.
Baca juga artikel edukatif lainnya di https://welasasihconsulting.id/. Nah, Welas Asih Consulting juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk konseling pernikahan, info pendaftaran hubungi Minsih melalui nomor berikut ini https://wa.me/6281229195390 ya.
