
Tahun ke tahun, dunia kerja rasanya lebih menantang dari sebelumnya. Persaingan semakin ketat, tuntutan untuk multitasking yang tidak berujung, dan ketidakpastian ekonomi menciptakan iklim dimana survive (bertahan hidup) aja jadi sebuah prestasi tersendiri. Kita tak lagi berhadapan dengan headline saja, melainkan dengan tekanan untuk selalu online, adaptasi dengan cepat, dan secara konsisten membuktikan value (nilai) diri kita.
Banyak tenaga profesional yang merasa bahwa lingkungan saat ini memicu perasaan insecure dan impostor syndrome, yang membuat kita merasa keberhasilan itu cuma kebetulan saja. Menjadi survivor di era sekarang bukan lagi tentang siapa yang paling pintar atau rajin, melainkan ketahanan mental ketika menghadapi berbagai tekanan, utamanya dalam pekerjaan. Sesuai dengan hasil penelitian ketahanan (resiliensi) menjadi faktor penting potensial untuk manajemen stres, kesejahteraan, dan kesuksesan di tempat kerja (APA, PsycNet).
Kenapa Kita Gampang Burnout?
Secara psikologis, kondisi gampang burnout ini berkaitan erat dengan aktivasi berlebihan pada sistem ancaman otak yang dikelola oleh Amygdala. Lingkungan kerja yang tak memberikan kepastian dan perubahan arahan, ketidakjelasan peran, dan kurangnya kontrol menjadi prediktor utama stres kerja. Pada saat kita merasa tak mempunyai kontrol atas prioritas kita sendiri atau tak tahu persis apa yang diharapkan membuat kita mudah cemas berlebih.
Tapi, jangan khawatir kamu bisa menjadi survivor yang tangguh. Caranya? kita harus fokus pada dua kunci utama yaitu boundary setting dan self compassion. Self compassion tidak mengajarkan kita untuk menghakimi diri sendiri ketika gagal, tapi melihat kegagalan menjadi pengalaman belajar yang valid. Sedangkan, boundary setting membuat kamu bisa mengatakan “tidak” pada pekerjaan di luar jam kantor atau menetapkan ekspektasi yang realistis.
Kamu harus bisa menetapkan batasan yang jelas kita klaim kembali kontrol atas waktu dan energi kita. Menjadi survivor bukan artinya kamu harus berjuang sendirian. Ketika kamu sudah merasa stuck, burnout, dan sulit berkata “tidak” karena takut dicap malas atau tidak kompeten. Sebaiknya kamu mencari pendampingan profesional. Pola seperti people pleasing dan overworking memang mengakar sehingga sulit untuk dipulihkan.
Kalau masih ingin tahu info yang lain langsung saja cek https://welasasihconsulting.id/. Nah, rekomendasi Psikolog dari Welas Asih Consulting juga bisa menjadi salah satu alternatif bagi kamu yang ingin berkonsultasi. Kami menawarkan sesi konsultasi yang berfokus pada pembangunan resiliensi mental, membantu kamu mengelola kecemasan kerja, dan mengajarkan kamu cara menetapkan batasan tanpa rasa bersalah. Untuk info lebih lanjut kamu bisa hubungi Minsih melalui nomor berikut ini https://wa.me/6281229195390 ya.
