
Berduka adalah perasaan yang hampir pasti dialami semua orang. Kehilangan bisa hadir dalam berbagai bentuk—tidak hanya karena kematian orang terdekat, tetapi juga akibat perpisahan, hilangnya hewan peliharaan, benda berharga, atau bahkan kondisi tertentu yang bermakna dalam hidup kita.
Menghadapi duka bukanlah perkara mudah. Perasaan ini sering kali membawa seseorang larut dalam kesedihan, kekosongan, dan perubahan besar yang membedakan kehidupan sebelum dan sesudah kehilangan. Berat ringannya duka sangat dipengaruhi oleh makna dari apa yang hilang. Karena itu, meski berduka adalah pengalaman universal dan alami, setiap orang tetap membutuhkan waktu untuk memproses perasaan sulit ini.
Duka Itu Subjektif
Perasaan duka bersifat sangat pribadi. Tidak ada batasan waktu, bentuk, atau cara kehilangan yang bisa dijadikan ukuran universal. Misalnya, seseorang bisa merasakan duka mendalam dari hubungan yang hanya berlangsung beberapa bulan, sementara orang lain mungkin mengalami proses berbeda meski hubungannya berlangsung bertahun-tahun. Semua bentuk duka adalah valid dan tidak dapat dibandingkan satu sama lain.
Mengapa Duka Begitu Berat?
Dalam berduka, seseorang dapat merasakan berbagai emosi: kesedihan, kehilangan, kaget, rindu, marah, bahkan mati rasa. Ada pula perasaan ambivalen—misalnya sedih sekaligus tenang, atau merasakan bittersweet, yaitu kesedihan yang hadir bersama cinta dan syukur. Nostalgia juga kerap muncul, yakni rasa haru saat mengingat masa lalu sekaligus menerima kenyataan hari ini.
Untuk memahami dinamika duka, kita mengenal model Dual Process Model (Stroebe & Schut, 1999). Dalam model dual ini, individu bergerak bolak-balik antara fokus pada kehilangan (menghadapi rasa duka) dan fokus pada pemulihan (beradaptasi dengan kehidupan baru). Dinamika ini menunjukkan bahwa duka bukanlah perjalanan linier, melainkan proses osilasi yang wajar.
JW Worden dan Stroebe (2007) juga menekankan pentingnya melalui beberapa tahap: menerima realitas kehilangan, merasakan sakitnya kehilangan, lalu perlahan terhubung kembali dengan kehidupan melalui adaptasi dan penataan ulang makna.
Menghadapi Rasa Kehilangan
Tahap paling sulit adalah menerima kenyataan kehilangan. Mengakui sesuatu yang berharga telah hilang membuka jalan untuk benar-benar merasakan pahitnya duka. Dalam tahap ini, penting untuk mengizinkan diri merasakan seluruh emosi—kesedihan, rasa bersalah, kesepian, atau gejolak batin (Maercker, Neimeyer, & Simiola, 2016).
Ada beberapa cara sehat untuk memproses duka, misalnya:
- berbicara dengan orang yang dipercaya,
- menulis jurnal atau surat perpisahan untuk diri sendiri,
- refleksi melalui meditasi atau relaksasi,
- atau membuat ritual pribadi sebagai bentuk penghormatan.
Alih-alih menahan perasaan, langkah-langkah ini membantu mengolah emosi dengan aman sehingga mendorong munculnya penerimaan.
Dari Luka ke Pertumbuhan
Pemulihan dari duka bukan berarti melupakan, melainkan bertumbuh dari rasa sakit. Proses ini melibatkan rekonstruksi makna kehilangan—mengubah pengalaman pahit menjadi kesempatan untuk belajar, menemukan nilai personal, dan memperkaya hidup (Davis & Nolen-Hoeksema dalam Stroebe, 2001).
Kemampuan menemukan makna dipengaruhi oleh banyak faktor: kekuatan kognitif, pengalaman emosional, dan dukungan sosial. Meski sulit, proses ini esensial agar seseorang tidak terjebak dalam pertanyaan “mengapa ini terjadi?”, melainkan beralih pada “apa makna yang bisa aku temukan?”.
Dimensi Spiritual dalam Berduka
Selain pemaknaan pribadi, dukungan spiritual juga dapat menjadi sumber kekuatan. Elizabeth Kübler-Ross menekankan pentingnya menemukan kedamaian setelah badai emosi kehilangan. Kepercayaan pada Tuhan atau ajaran agama dapat membantu melihat bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan hidup.
Dalam ajaran Islam, misalnya, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap makhluk, baik muda maupun tua. Kesadaran ini dapat membantu kita menerima bahwa perpisahan hanyalah sementara, dan ada harapan akan pertemuan di kehidupan yang abadi.
“Berduka adalah proses alami, pemulihan adalah perjalanan, dan keduanya adalah bagian dari pertumbuhan.”
Referensi :
Stroebe, M., Schut, H., & Stroebe, W. (2007). Health outcomes of bereavement. The Lancet, 370(9603), 1960-1973.
